Ketika pemerintah berbicara tentang pendidikan yang "relevan", yang dimaksud hampir selalu sama: lebih banyak STEM, lebih sedikit yang lain. Asumsi bahwa STEM otomatis menjawab kebutuhan pasar dan ilmu lainnya tidak, tidak pernah diuji secara serius. Ia hanya diterima begitu saja, lalu dijadikan dasar kebijakan yang menyentuh jutaan orang.
Forum Ruang Gagasan edisi Mei, yang menghadirkan Achmad Hanif selaku peneliti CORE Indonesia, mencoba membongkar logika itu. Bukan untuk membela satu rumpun ilmu atas yang lain, melainkan untuk menunjukkan bahwa memilih di antara keduanya adalah separuh jawaban untuk masalah yang jauh lebih besar.
Kecenderungan kebijakan belakangan ini tidak sulit dibaca. Beasiswa LPDP secara eksplisit mengalokasikan lebih banyak kuota untuk bidang sains dan teknologi, langkah ini diambil setelah melihat proporsi penerima beasiswa rumpun STEM dari tahun 2013 hingga 2022 hanya sekitar 47 persen (LPDP RI, 2025).
Agenda prioritas utama pemerintah hampir semuanya mengarah ke pendekatan berbasis sains dan teknologi (seperti hilirisasi), maka wajar melihat arahan Presiden Prabowo untuk mengalokasikan peruntukan LPDP sekitar 80 persen untuk STEM (detiknews, 2026). Ilmu sosial, humaniora, seni, dan agama perlahan kehilangan ruang, bukan karena terbukti tidak relevan, melainkan karena tidak terlihat hasilnya dalam lima tahun ke depan. Sementara kebijakan pendidikan butuh justifikasi yang bisa diukur sekarang, peradaban butuh fondasi yang dibangun jauh sebelum hasilnya kelihatan.
Data global memperkuat argumen itu. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menemukan bahwa keterampilan yang paling dibutuhkan hingga 2030 bukan hanya literasi teknologi, melainkan juga berpikir kritis, berpikir kreatif, kepemimpinan, dan empati. Tujuh dari sepuluh perusahaan yang disurvei menyebut kemampuan berpikir analitis sebagai keterampilan paling esensial, kapasitas yang dikembangkan lintas disiplin ilmu, bukan eksklusif STEM saja.
Insinyur dan sosiolog sama-sama butuh berpikir analitis, hanya objek dan konteksnya berbeda. Seorang insinyur berpikir analitis tentang sistem teknis dan efisiensi operasional. Seorang ekonom atau sosiolog berpikir analitis tentang dampak sosial, distribusi manfaat, dan keberlanjutan dari sistem itu. Kombinasi antara kecakapan teknis dari STEM dan analytical thinking yang fleksibel dari SHARE, itulah profil yang paling dicari pasar modern karena mampu mengatasi problem yang kompleks dan multidimensional.
Dengan kata lain, STEM dan SHARE bukanlah dua kutub yang saling meniadakan. Mereka adalah dua sisi dari satu pertanyaan yang sama: manusia seperti apa yang ingin kita bentuk? STEM membangun kapasitas teknis untuk memecahkan masalah. SHARE membangun kapasitas untuk memahami masalah mana yang layak dipecahkan dan untuk siapa solusi itu bekerja. Seperti yang dianalogikan Hanif dalam forum: Jika STEM mampu menciptakan senjata api, maka SHARE yang akan menentukan kemana senjata itu diarahkan. Memilih satu dan menutup yang lain bukanlah modernisasi, itu pemiskinan intelektual.
Mungkin ada yang bilang bahwa Indonesia butuh peningkatan jumlah ahli sains dan teknologi sekarang karena adanya gap existing, sementara soshum bisa dioptimalkan kemudian. Tapi logika itu keliru dalam dua hal:
Gap yang dimaksud adalah minimnya lapangan kerja berkualitas, mengatasinya dengan memprioritaskan STEM tidak otomatis menyelesaikan masalahnya.
Menciptakan lapangan kerja berkualitas itu sendiri membutuhkan pembuat kebijakan yang bisa berpikir kritis tentang dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari solusi teknis itu. Memprioritaskan STEM tanpa SHARE justru menghasilkan solusi yang kurang terstruktur dengan baik untuk konteks lokal.
Tugas kita bukan sekadar memilih antara insinyur atau sosiolog, antara kode dan kata. Tugas kita adalah membangun sistem yang cukup jujur untuk mengakui bahwa keduanya dibutuhkan, dan cukup berani untuk tidak mengorbankan salah satunya demi narasi pembangunan yang terlihat lebih mudah dijual. Selama kebijakan pendidikan terus dirumuskan dalam logika pilih satu, kita tidak sedang membangun sumber daya manusia yang utuh. Kita hanya sedang memproduksi separuh jawaban untuk masalah yang jauh lebih kompleks dari itu.
Ditulis oleh Raditya Akhdan Nirwasita - Intern at CORE Indonesia (Mahasiswa Universitas Indonesia)